Wednesday, January 3, 2018

Gelar Voting Capres, Fadli Zon Ternyata Cocok Jadi Pelawak

Siapa yang tidak kenal Fadli Zon? Goblok berarti kalau tidak tahu. Sosok yang kontroversial ini memang bisa dikatakan sebagai news maker yang memiliki nilai jual tinggi dan mungkin juga salah satu yang terbaik dalam sejarah dunia perpolitikan di Indonesia. Bagaimana tidak? Setiap perilaku dan pernyataan yang ia keluarkan, selalu menjadi "inspirasi" para pegiat media sosial dan media online untuk menulis cerita. Bahkan tulisan yang saya buat ini tidak lain dan tidak bukan bersumber dari "kecerdasan" Plt Ketua DPR RI yang terhormat dan kesayangan kita ini.

Baru-baru ini, Fadli Zon kembali membuktikan bahwa dirinya memang sosok yang sangat "cerdas" dan tidak hanya berperan sebagai news maker yang punya nilai layak jual, tapi ternyata ia juga punya bakat melawak diatas rata-rata. Buktinya, pada Rabu (03/01/2018), Fadli Zon berhasil membuat lelucon di awal tahun yang sangat lucu. Ia menggelar polling di sosial media Twitter tentang siapa yang akan menang jika Pilpres dilakukan pada hari itu. Berikut ini isi postingan Fadli Zon



Namun sayang seribu sayang, bagaikan pungguk merindukan bulan, hasil polling capres itu ternyata tidak sesuai harapan. Berharap dimenangkan Prabowo, tapi ternyata yang menang adalah Jokowi. Walaupun saya tidak tahu apa maksud Fadli Zon menggelar polling tersebut, tapi logika yang sehat pasti berpikir bahwa polling ini bertujuan untuk memenangkan Prabowo dan membantah survei-survei ilmiah terkait Pilpres yang telah digelar, seperi SMRC, Indo Barometer, PolMark, Poltracking, dan Populi Center, dimana dari lima survei tersebut, Jokowi masih ditetapkan sebagai juaranya. Logika tersebut setidaknya didasarkan pada dua fakta, antara lain

  1. Sebagian besar follower Fadli Zon di Twitter tentu saja adalah pendukung Prabowo

  2. Fadli Zon pernah mengeluarkan pernyataan bahwa voting di Twitter terkait Capres jauh lebih valid jika dibandingkan dengan survei yang digelar oleh lembaga survei di Indonesia. Faktanya bisa dilihat melalui link ini.


Gara-gara postingan ini, jagat media sosial dan media online Indonesia dibuat gempar, bahkan mungkin banyak warganet yang ngakak guling-guling, termasuk saya. Terima kasih pak Fadli sudah membuat lelucon yang sangat lucu. Berkat postingan anda, awal tahun 2018 ini terasa begitu spesial buat saya.

Namun apa yang sebenarnya terjadi? Postingan Fadli Zon itu ibarat pisau bermata dua, ada yang baik (bikin ngakak) dan juga buruk. Nah loh, apa dong yang buruk? Terlahir sebagai oposan sejati (karena selalu menempatkan diri sebagai lawan pemerintah), Fadli Zon ini walaupun dikenal cerdas, ia kadang-kadang suka keblinger. Loh kok bisa? Ya iya lah bro, postingan itu jelas berdampak fatal dan bikin malu yang berkepanjangan.

Ayo kita analisa. Di era internet dan media sosial seperti sekarang ini, atau yang biasa disebut dengan zaman now, dibikin malu atau kesel oleh orang lain atau teman-teman kita itu sudah menjadi hal yang biasa dan masih berada di ambang batas kewajaran. Tapi bagaimana kalau dibikin malu dan mangkel di sosial media gara-gara ulah kita sendiri? Wah bisa malu tujuh turunan bro. Inilah yang disebut cerdas tapi keblinger.

Kalau saya jadi Fadli Zon, pastilah saya malu kuadrat alias tengsin berat menghadapi ujian dan cobaan ini. Tapi bukan Fadli Zon namanya kalau tidak punya jurus kaki seribu alias ngeles dot com. Dengan jurus tersebut, saya kira Fadli Zon cukup berhasil merubah sentimen/opini negatif publik terkait polling Capres tersebut. Melalui akun Twitter-nya, Fadli Zon kembali menjelaskan pemikiran logisnya terkait voting tersebut. Berikut ini salah satunya



Tak hanya itu, dengan kombinasai jurus kunyuk melempar buah, Fadli Zon seakan-akan berupaya menciptakan opini publik bahwa kemenangan Jokowi pada polling akun Twitter-nya, adalah hoax yang membangun. Buktinya ia memposting status ini.



Munculnya fenomena ini sejatinya adalah bukti bahwa banyaknya berita hoax dan isu negatif yang beredar di media sosial dan media online, tidak berdampak signifikan pada elektabilitas Jokowi. Para lawan politik berharap bahwa hoax dan isu negatif bisa membuat elektabilitas Jokowi turun, tapi ternyata mereka salah. Justru fitnah-fitnah tersebut malah membuat Jokowi semakin terkenal dan menjadi Presiden kesayangan seluruh masyarakat Indonesia.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Fenomena tersebut bisa muncul karena masyarakat Indonesia sudah semakin cerdas dan tidak mudah terprovokasi isu negatif dan bernuansa SARA. Kondisi ini juga diperkuat oleh sosok Jokowi yang memiliki komitmen dan berdedikasi tinggi dalam membangun Indonesia. Buktinya, banyak pembangunan dan program pemerintah telah dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat telah dilakukan pemerintah.

Pembangunan yang telah dilakukan dari pelosok desa sampai daerah tertinggal, sudah dirasakan masyarakat setempat. Akan tetapi berita yang tersebar di media online dan media sosial selalu menyudutkan Jokowi. Alasannya bahwa Jokowi telah menjual aset negara dan banyaknya hutang luar negeri, sudah tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Menjelang pelaksanaan Pilpres 2019, akan bertambah lagi isu yang akan dimuncukan di media untuk mengalahkan elektabilitas Jokowi saat ini. Berpikir cerdas adalah cara terbaik untuk menyimpulkan berdasarkan kenyataan yang ada.

Sebagai Pelakasana Tugas Ketua DPR-RI, harusnya Fadli Zon malu dengan segala komentar dan pernyataan yang tidak berdasar dan hanya mementingkan kepentingan golongannya saja. Wakil Rakyat yang cerdas dibutuhkan untuk membangun Indonesia, BUKAN hanya OMONG KOSONG belaka dan sifatnya adu domba antara masyarakat dan pemerintah. (Arl)
banner
Previous Post
Next Post

0 comments: