Wednesday, December 6, 2017

Menanti Teror Natal dan Tahun Baru 2018

Ngatain - Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru yang akan dilakukan oleh seluruh Umat Nasrani, banyak terjadi aksi teror yang dilakukan oleh suatu kelompok maupun individu. Tercatat hampir setiap tahun terjadi peristiwa teror di gereja-gereja dan jalanan (ramai orang). Di Indonesia, retetan peristiwa teror bom menjelang Natal dan Tahun Baru terjadi dari tahun ke tahun.

Aksi teror gereja Samarinda (13 November 2016)

Aksi teror dengan melemparkan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, mengakibatkan 4 balita mengalami luka serius, bahkan seorang korban bernama Intan Olivia Marbun yang berumur 2,5 tahun, meninggal dunia dan 1 orang dewasa lainnya mengalami luka-luka.

Polisi menetapkan 7 tersangka dalam kasus ini, termasuk pelaku pelemparan bom, Juhanda alias Joh alias Muhammad bin Aceng Kurnia. Enam tersangka lainnya adalah Supriadi, GA, RP, Ahmadani, Rahmad, dan Joko Sugito.

Bom Sarinah (14 Januari 2016)

Sebuah ledakan terdengar di Starbucks Cafe, Gedung Cakrawala, Sarinah. Berselang 20 detik kemudian terjadi lagi ledakan di pos lalu lintas depan Sarinah. Tak hanya meledakkan diri dengan bom, pelaku teror lainnya juga mengenggam senjata api.

Aksi baku tembak terjadi antara beberapa pelaku teror dengan polisi yang mendatangi lokasi kejadian. Akibat dari aksi teror tersebut empat orang terduga teroris meninggal dunia. Satu meninggal karena bom bunuh diri di depan pos lalu lintas, satu meninggal karena bom bunuh diri di Starbucks, dua lainnya tewas ditembak.

Selain para pelaku teror, ada pula empat korban warga sipil yang meninggal dunia dan 25 korban yang mengalami luka-luka.

Penggerebekan Teroris Banten (31 Desember 2013)

Di sebuah rumah kontrakan, tinggal lima orang rekan Dayat (diduga sebagai pengatur aksi pemboman di Vihara Ekayana, Jakarta Barat), yaitu Nurul Haq alias Dirman dan Oji alias Tonggo, Rizal alias Teguh alias Sabar, Hendi, dan Edo alias Amri. Nurul Haq telah ditetapkan sebagai DPO terkait kasus penembakan terhadap anggota kepolisian di Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Polisi menemukan enam senjata api, terdiri dari sebuah revolver dan lima senjata rakitan. Selain itu, polisi juga menemukan peluru bermacam kaliber. Dari peluru yang ditemukan, terdapat 34 peluru kaliber 9 milimeter. Ditemukan pula daftar nama 50 Vihara dalam lokasi penggerebekan tersebut diduga merupakan sebuah pergeseran pola teroris yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Dari beberapa data diatas, dapat dikatakan bahwa acara natal dan tahun baru selalu diwarnai dengan berbagai insiden teror bom maupun penangkapan para terduga teroris dan lain sebagainya. Apakah ini merupakan rencana bagi para pemeluk Ideologi Islam Garis Keras? Karena sebagian besar mengatasnamakan Islam dalam melakukan aksinya.

Tidak sedikit dari berbagai kalangan masyarakat dan pemerintah mengecam aksi yang dilakukan oleh kelompok teror. Akan tetapi, jaringan dari kelompok teroris apakah berafiliasi pada Islam Irak Suriah? Nyatanya TIDAK. Bahkan untuk jaringan teroris di Indonesia terpecah menjadi beberapa bagian. Dari sini lah dapat diketahui bahwasannya pola kelompok teroris di Indonesia hanya sekedar untuk mencari NAMA dan DIAKUI keberadaannya.

BAGAIMANA DENGAN NATAL DAN TAHUN BARU 2018? Apakah Indonesia dihadapkan dengan ancaman TEROR? Apabila ada hal-hal yang mencuruigakan di lingkungan tempat tinggal anda, segera laporkan kepada pihak yang berwajib.

STOP TERORISME!!!
banner
Previous Post
Next Post

0 comments: