Sunday, January 21, 2018

Cuitan Felix Siaw Dilawan “Rakyat Awam Pro-Pancasila”

Cuitan Felix Siaw Dilawan “Rakyat Awam Pro-Pancasila”
Felix Siaw merupakan muallaf salah satu ulama jebolan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang gencar meneriakkan “khilafah” bersama HTI yang kita sama-sama tahu bahwa HTI adalah ormas yang anti dengan Pancasila dan menganggap Pancasila dan UUD 1945 sebagai sistem jahiliyah. Simak bukti video berikut yang diambil pada saat HTI melaksanakan Muktamar HTI di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada 2 Juni 2013 silam.

https://www.youtube.com/watch?v=vvwf4GnPgn4

Felix Siaw baru-baru ini kembali berkicau di dunia maya tentang pemerintahan Indonesia saat ini dan sempat viral di media online dan media sosial karena ‘ditangkis’ oleh “rakyat awam Pro-Pancasila” melalui akun facebook atas nama Febry SM. Jawaban Febry yang dibuat per-paragraf tersebut juga tak kalah viral dengan kicauan Felix Siaw bahkan hingga artikel ini diturunkan telah memperoleh banyak jempol dari pembacanya.

Berikut kicauan Felix Siaw (tokoh HTI) dan jawaban dari Febry SM (masyarakat awan yang cinta NKRI dan Pro-Pancasila) yang berhasil dihimpun oleh ngatain.com, yuk dibaca tapi jangan baper, ngatain.com juga akan mengulas kicauan dari Felix Siaw tersebut, mana yang lebih masuk akal, Felix Siaw atau Febry SM?

Silahkan nilai sendiri mana yang lebih masuk akal bagi netizen dan jadi konsumsi pribadi. Oke !?

[caption id="attachment_1242" align="alignnone" width="934"] sumber: timeline photos[/caption]

Paragraf 1
Felix: Kalau rakyat mayoritas Hindu menghendaki pemimpin yang seagama, maka itu wajar, itu demokratis. Giliran Muslim yang menghendaki pemimpin seagama, ini intoleransi.

Febry: Presiden Indonesia sudah Muslim tetep saja dibenci dan dicaci maki kelompok elo lix, sebenarnya siapapun pemimpinnya baik muslim atau bukan tetep aja akan kau salahkan karena yg kau anggap benar itu hanya kepemimpinan versi HTI mu. Sistem kepemimpinan demokrasi di NKRI akan selalu kau salahkan krn emang elu anggap sistem kufur, thogut.

Kalau yang ini Febry yang bener sih. Tahun lalu mungkin Ahok ditolak jadi Gubernur DKI karena beliau bukan agama Islam dan ditambah lagi kasus penistaan agama sampai Ahok di cap kafir oleh HTI. Nah kalau Presiden Joko Widodo? Kan dia muslim, lalu kenapa banyak yang menghina beliau juga? Mungkin benar, HTI tidak peduli siapapun Presidennya, selama masih ada Presiden dan ideologi Pancasila maka HTI akan terus meneriakkan khilafah.

Paragraf 2    
Felix: Bila ada orang Buddha mempraktekkan keyakinannya, isi dari yang mereka yakini kitab suci, itu religius. BILA MUSLIM INGIN MEMPRAKTEKKAN KITABNYA, INI RADIKALISME.

Febry: Wow konyol sekali, OMONG KOSONG APA INI Lix…. udah dari jaman sebelum elu lahir di NKRI bebas menjalankan ajaran dari kitab Al Quran, Elu Sholat, Puasa, Zakat, Haji dll, apa langsung dituduh radikal? Nggak lik, elu bebas disini menjalankan ibadah. Mau sujud sampai modar juga gk apa apa lix.

Yg radikal itu mereka yg atas nama islam ingin meruntuhkan pondasi negara yg sudah diperjuangkan oleh para pendiri negara ini. Ingat lix pendiri negara ini adalah ulama yg lebih ‘alim dari pada elu, beliau-beliau lebih mengetahui apa makna kandungan Al Quran, Hadist, khilafah khalifah … dari pada elu yg mualaf. Dan beliau-beliau lebih mengetahui apa yg bisa mempersatukan keberagaman NKRI yg terdiri dari ribuan pulau, ragam agama, suku, budaya dan bahasa.

Ada benarnya juga yang dikatakan Febry SM, sejak zaman NKRI ini ada kan nggak pernah dilarang buat umat agama manapun menerapkan syariat beragama mereka. Nah yang dilarang itu yang menjadikan agama sebagai “topeng” untuk meruntuhkan pondasi NKRI demi kepentingan mereka. Tahun 1945 ada NII bentukan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang mau mendirikan negara Indonesia islam padahal udah ada NKRI pada saat itu. Kalau zaman now, ya Hizbut Tahrir.

Paragraf 3    
Felix: Ada aliran kepercayaan berbeda-beda di negeri, dikatakan ini kearifan lokal. Islam agama yang sudah diakui, punya banyak madzhab berbeda-beda, dikatakan Islam terpecah-belah.

Febry: Gue gak tau siapa yg hari ini ngomong islam terpecah belah Lix… Tapi gue pernah baca hadist bahwa umat islam kelak emang akan terpecah menjadi 73 golongan.  Jadi elu ini sedang nyalahin siapa, sedangkan Nabi SAW memang mengabarkan umat islam akan terpecah belah. Elu mau nyalahin Nabi…Gile lu ndro gk takut didemo pasukan nasbung apa?

Setuju, di Indonesia saja ada 4 mazhab yaitu, imam Hambali, imam Hanafi, imam Malik dan imam Syafi’i. Sedangkan menurut Rasulullah SAW umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya 1, wallahualam.

Paragraf 4    
Felix: Suku pedalaman telanjang dikatakan budaya bangsa, tapi siswi yang mau menutup aurat dikatakan kearab-araban, harus diawasi, dituduh benih-benih ekstrimisme.

Febry: WTF… Gue punya banyak teman yg nutup aurat pakai jilbab, mereka santai aja kemana-mana gk diawasi dan gk dituduh benih extrimisme… Yg benih2 extrimisme itu yg ideologinya selaras dgn isis, yg ingin menumbangkan pondasi NKRI kayak kelompok elu.

Nah kalau yang ini kayaknya Felix Siaw lagi ngelantur ngomongnya. Di Indonesia ini sangat banyak perempuan yang berhijab dan menutup aurat, tapi apakah mereka diawasi dan dituduh extrimisme dimana-mana? Belum pernah ada pemerintah kita mengeluarkan aturan yang mengharuskan aparat keamanan untuk mengawasi wanita berhijab di mall atau pasar. Bahkan banyak Kepala Daerah yang mengharuskan pelajar perempuan di daerahnya untuk memakai jilbab sebagai bentuk penguatan dalam norma agama, khususnya islam yang memang mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya.

Paragraf 5    
Felix: Perilaku kaum Nabi Luth yang menjijikkan dikatakan lumrah, harus diterima sebagai bagian keberagaman. Sedangkan ide penerapan syariah dan khilafah dianggap terorisme.

Febry: Yg ngomong perilaku nabi Luth Lumrah siapa ya? Semua sepakat itu kelainan.  Lha mau elu apa, mau bunuh mereka? Kalau mereka bisa disembuhkan kenapa harus dibunuh.  Kalau gk bisa disembuhkan, minimal ajarin mereka amalan amalan yg bisa membuat dosa dosa berguguran. Ingat, pintu maaf Allah sangat luas. Barang kali ada amalan yg bisa membuat mereka kelak dpt hidayah.     
Elu Ngebet ingin khilafah, Ya udah gabung aja sama isis, mereka berusaha mendirikan negara khilafah bersyariah. Gabung sono.

Ngatain.com sepakat bahwa LGBT memang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia, nikah sesama jenis pun dilarang oleh pemerintah tapi alangkah lebih bijaksana lagi untuk kita sebagai rakyat Indonesia “merangkul” mereka (LGBT) dan memberikan kesadaran mereka bahwa orientasi seksual mereka selama ini adalah salah. LGBT juga sadar kok kalau mereka punya kelainan seksual dan mereka juga ingin hidup normal kok seperti yang lainnya.

Ide Syariah dan khilafah seperti apa dulu? Khilafah yang ingin meruntuhkan ideologi Pancasila karena dianggap pemikiran jahiliyah? Menegakkan khilafah dengan mengganti sistem pemerintahan yang sah saat ini? Ya itu jelas salah dong.

Mahfud MD pernah bilang: khilafah itu kan artinya sistem pemerintahan, sistem pemerintahan Indonesia berlandaskan Pancasila, berarti ya khilafah Indonesia itu berlandaskan Pancasila dan khalifah itu kan pemimpin umat berarti kan Presiden. Lalu apa lagi yang diteriakkan HTI selama ini?

Paragraf 6    
Felix: Pejabat preman, mengumbar fitnah, punya imunitas hukum, katanya sedang melaksanakan tugas. Ulama ikhlas, dijerat dengan pasal mesum, yang tak pernah terbukti.

Febry: Makanya suruh pulang sini, kalau gk salah ngapain kabur. Ulama ikhlas???? dah dibongkar tuh sama La Nyalla Mataliti, ternyata ada kepentingan politis utk memunculkan Anies-Sandi meraih kuasa. Jadi dia gk murni bela agama dlm aksinya.

Pernyataan bung Febry SM ini ada benarnya juga. Pasca kasus mahar La Nyalla oleh Gerindra, Al-Khaththath (Sekjen FUI dan alumni 212) akhirnya mengatakan, "Jadi, dari lima nama FUI ajukan, salah satunya Mas La Nyalla, itu tidak satu pun yang diberi rekom. Kita kan menganggap para ulama sudah memperjuangkan dengan pengerahan Aksi Bela Islam 212 yang sangat fenomenal dan kita di Jakarta sudah berhasil memunculkan Gubernur Anies-Sandi”. NAH LOH ?!

Ini link nya https://news.detik.com/berita/d-3810833/bela-la-nyalla-al-khaththath-ungkit-212-dan-kemenangan-anies-sandi

Paragraf 7    
Felix: Pelaku makar, membawa senjata, tegas-tegas menantang perang, dilabeli kelompok kriminal bersenjata. Sedang yang menenteng bendera tauhid, dianggap makar.

Febry: Yang hari ini demen bawa bendera Tauhid ingin dirikan negara islam itu kalau gk ISIS ya Hizbut Tahrirmu itu. Elo ingin mendirikan negara di dalam negara itu makar. Klompok Elo ingin mengubah pondasi negara itu makar. Siapa sih Hizbut Tahrir, cuma klompok asing dr luar negeri yg gak punya jasa perjuangan apa apa dlm mendirikan NKRI. Dan gue yakin ketika negara khilafah impianmu itu didirikan, klompok elo gk bakal sudi pakai bendera Merah Putih, karena bendera merah putih itu bendera nasionalisme…klompok elu kan anti nasionalisme. Ya kan.
Bendera Merah Putih cuma akan elu buang ke tong sampah. Itu makar. Elu pikir pemerintah dan rakyat Indonesia menerima? NGGAK. Lagian eks klompok elu kalo ada demo ngikut ndompleng bawa-bawa benderamu itu, apakah ditangkap? Gk tuh.


Bawa bendera tauhid itu tidak masalah, yang masalah adalah kelompok yang menjadikan bendera tauhid sebagai lambang organisasi mereka yang notabene anti Pancasila dan menganggap Pancasila, demokrasi dan UUD 1945 adalah produk jahiliyah lalu berlindung dibalik bendera perjuangan Rasulullah. Padahal tiap ada demo umat muslim tujuan mereka bawa bendera tauhid bukan hanya sekedar “bawa” dalam rangka berjuang di jalan demokrasi tapi untuk menunjukkan bahwa mereka masih “eksis”. Siapa mereka? Ya Hizbut Tahrir.

Paragraf 8    
Felix: Uang haram, hasil korupsi, pelakunya melenggang. Sedangkan pemeriksanya dikriminalisasi, juga melenggang pelakunya. Penjahat dimuliakan, ulama dianggap penjahat.

Febry: Penjahat dimuliakan? Ulama dianggap penjahat? Siapa nih penjahat dan ulamanya. Banyak penjahat yg dihukum mati dan dipenjara Lix…kalau 100% adil itu kayaknya cuma Allah Lix, dibelahan negara manapun bahkan jaman Khilafah mungkin juga punya masalah yg sama dlm penegakan hukum.
Ulama dianggap penjahat? Omong kosong apa nih, presiden seringkali bercengkrama berkumpul dgn para ulama dan habaib. Jangan pakai embel2 ulama deh, kalo cuma kasus chat mesum, elu pakai diri pribadi dia yg kena kasus aja ya, jangan pakai embel2 ulama. Karena cuma dia doang yg kena kasus. Kalaupun ada yg lain itu cuma beberapa glintir bisa dihitung dgn jari.
Ada jutaan ulama yg asik asik aja sama pemerintah. Dan perlu elo ketahui, yg kena kasus chat mesum itu pernah dipenjara di jaman  megawati dan  SBY ya… Jadi status org yg pernah keluar masuk penjara itu namanya residivis. Kalo suatu saat residivis itu kembali terjerat kasus, ya berarti emang kebiasaannya bikin masalah. Bukan kriminalisasi namanya kalau yg kena kasus itu residivis.


Intinya, siapapun tersangka dari sebuah tindakan kriminal , ya yang dicap sebagai pelakunya ya si orang yang terbukti bersalah tersebut aja. Kalau si A yang berbuat kriminal ya si A yang terima hukuman, toh dia melanggar hukum, nggak ada kaitannya sama organisasi atau komunitas yang ada di belakang doi.

Paragraf 9    
Felix: Begitu kejujuran mahal di negeri ini. Keadilan pun timpang. Menjadi Muslim di negeri mayoritas Islam, tidak semudah dan seenak yang dikira penduduk dunia.

Febry: Lix, kurang enak apa lagi kamu hidup di sini. Negara mana yg lebih enak dari Indonesia bagi umat islam. Di Benua Amerika, disana menjamur islamobia, di benua eropa juga, Ditimur tengah banyak perang, untuk sekedar kemasjid saja khawatir kalo kalo pas sholat ada bom nyamber.
Di Saudi dan Turki, orang2 HTI ditangkapi… Sedangkan di Indonesia, ya Allah aman banget ke masjid, sholat, plesiran ke mall…aman tentram. Dan elo bebas koar koar menikmati alam demokrasi.
Yg ngrasa hidup di sini gk enak itu cuma kamu dan klompokmu sendiri saja, salah sendiri ngapain elu pengen mengubah pondasi negara ini. Gk usah pakai embel2 atas nama umat islam, pakailah label umat Hizbut Tahrir…karena umat islam di Indonesia baik baik saja dan nyaman hidup disini.


Sepakat! Indonesia adalah negara paling aman dan nyaman bagi rakyatnya. Imigran afrika dan timur tengah aja nyari suaka perlindungan ke Indonesia. Contohnya, seperti kampung arab di puncak, Bogor.

Paragraf 10 
Felix: Asal anda Islam anda harus salah atas nama keberagaman, toleransi, dan demokrasi. Asal anda mengaku nasionalis, anda bisa jadi penjahat paling kejam sekalipun.

Febry: Ini dia lagi ngomong apa lagi boker? Lix lix, aneh sakali… Gue dan ratusan juta umat islam menyatu dalam keberagaman, toleransi dan demokrasi…dan merasa gk pernah disalah salahkan atas nama hal hal tersebut. Sekali lagi jangan pakai embel2 umat islam lix, karena yg punya masalah dengan demokrasi, keberagaman dan toleransi itu elo dan klompok loe Hizbut Tahrir lix, bukan umat islam.
Asal atas nama nasionalisme anda bisa jadi penjahat paling kejam? Kasih contoh Lix, di Indonesia ini kasus atas nama Nasionalisme bisa menjadi penjahat paling kejam.
Yang gue lihat justru sering terjadi kelompok yang mengatas namakan jihad islam melakukan bom bunuh diri dan menewaskan banyak orang.  Atas nama jihad islam membela agama Allah, elu dan klompokmu boleh suuzdon, memfitnah, mencaci-maki umaro/pemerintah dan ingin meruntuhkan pondasi negara ya….
Sudahlah Lix, hentikan provokasi murahanmu. Elo kalo gk suka dengan pemerintahan NKRI silahkan pindah aja ke negeri asal nenek moyangmu, China. Dan monggo bandingkan enak mana antara kamu tinggal di china dengan di NKRI.


Ini negara hukum dan pasti yang melanggar hukum akan diproses secara hukum yang berlaku tidak peduli agama apa yang dianutnya. Tidak ada sejarahnya orang yang teriak “saya Indonesia, saya Pancasila” berniat untuk menghancurkan bangsanya sendiri.

Tidak ada sejarahnya orang HTI teriak “saya Indonesia, saya Pancasila”. (Irf)

 

Saturday, January 20, 2018

Muslim Cyber Army, Sang Pembela Umat di Media Sosial?

Muslim Cyber Army, Sang Pembela Umat di Media Sosial?
Belakangan ini kita sering kali mendengarkan atau bahkan mengetahui tentang suatu gerakan di media sosial tentang adanya Muslim Cyber Army atau MCA. MCA ini dibentuk dan menjadi “Booming” guna menjadi pembela siapapun yang dikatakan menghina atau bahkan memfitnah Umat dan Ulama Islam. Ditulisan sebelumnya sudah membahas masalah apa itu MCA dan bagaimana dia terbentuk.

Menengok semangat persatuan dan kesatuan Umat Islam, khusus di Indonesia dengan adanya gerakan MCA ini merupakan salah satu poin positif karena umat yang seakan-akan dipisahkan oleh jarak, suku atau bahkan kesibukan pekerjaan dapat bersatu padu. Pada point persatuan Umat Islam, saya mengapresiasi besar atas jasa MCA. Prestasi tersebut menurun jika melihat apa yang disebarkan oleh akun-akun yang mengatakan dirinya “MCA” tulen atau sejati. Sering kali adanya provokasi atau nada sumbang dengan umpatan kasar yang menurut saya tidak pantas kita keluarkan sebagai  Pengikut Nabi Besar, Rasulullah, Muhammad SAW yang selalu mengajarkan kebaikan dan kasih sayang dalam setiap ajaran baginda.

[caption id="attachment_1237" align="alignnone" width="450"] Salah satu akun di Twitter mengatasnamakan “MCA” menggunakan kata kasar[/caption]

Saya  mengutip salah satu ajaran baginda, yaitu dari Anas r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua saling benci membenci, saling dengki mendengki, saling belakang membelakangi dan saling putus memutuskan -ikatan persahabatan atau kekeluargaan- dan jadilah engkau semua wahai hamba-hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seorang Muslim kalau ia meninggalkan -yakni tidak menyapa- saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih). Atau ajaran beliau lainnya seperti ini, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pintu-pintu syurga itu dibuka pada Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, melainkan seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya itu ada rasa kebencian -dalam hati-, lalu dikatakanlah -yakni Allah berfirman kepada malaikatnya-: “Nantikanlah dulu kedua orang ini, sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini, sehingga keduanya berdamai kembali.” (Riwayat Muslim).

Selain itu, Rasullah SAW pernah memaafkan Wahsyi yang telah membunuh paman baginda bernama Sayyidina Hamzah dan Hindu yang memakan jantungnya. Bukankah selayaknya keduanya dihukum mati? Namun Rasullah SAW memaafkannya dan keduanya mendapatkan hidayah dalam Islam.

Persatuan Umat Islam harus kita lakukan dan gemuruhkan di seluruh jagat raya ini. Dengan menggunakan kelemahlembutan yang diajarkan oleh Baginda, Rasullah SAW. Jangan sampai hati kita yang berniat untuk jihad, menyebarkan dakwah di Media Sosial menjadi sia-sia dan mubazdir di Hadapan Allah SWT karena kata kasar dan makian yang digunakan oleh mereka yang menamakan dirinya “MCA Sejati”.

Teruskan perjuangan Umat dengan lebih bijaksana dan sopan sehingga bagi mereka yang hatinya belum disadarkan dalam berkah Islam, dapat bergerak dan senantiasa menyebarkan kasih sayang ala Rasullah SAW. (Afk)

Fadli Zon Cocok Jadi Kritikus Bukan Wakil Rakyat!

Fadli Zon merupakan salah satu dari 5 Wakil Ketua DPR RI periode 2014 s.d 2019 dari Fraksi Partai Gerindra. Fadli Zon cocok untuk disebut sebagai “Wakil Rakyat” bukan? Pertanyaannya, apakah layak seorang wakil rakyat menyampaikan kritikan terhadap Presiden bukan di MEJA RAPAT ANTARA DPR DENGAN PRESIDEN melainkan di MEDIA MASSA yang sarat dengan propaganda dari pihak lain?

Apakah ini langkah politis seorang wakil rakyat untuk menyampaikan aspirasi rakyatnya kepada Presiden ATAU ini langkah untuk menjatuhkan kredibilitas Presiden yang notabene merupakan “lawan politik” nya Partai Gerindra dalam Pilpres 2014?

Fadli Zon mungkin lebih pantas menjadi seorang kritikus, yang kerjaannya selalu mengkritik pihak lain dan selalu menilai dari aspek negatifnya saja. Timbul pertanyaan, apakah Presiden itu adalah “pihak lain” yang layak untuk selalu dikritisi oleh seorang wakil rakyat?

Bukankah dalam Panduan Tugas dan Wewenang DPR RI sudah dinyatakan bahwa tugas anggota DPR adalah “Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat” ?

Beberapa kasus “kritikan” Fadli Zon yang membuat dia layak menjadi seorang kritikus dibandingkan wakil rakyat, antara lain:

  1. Pada 23 Oktober 2014, Muhammad Arsyad Assegaf, seorang asisten tukang sate warga Ciracas, Jakarta Timur, ditahan Bareskrim Polri atas tuduhan pornografi, penghinaan, dan perbuatan tidak menyenangkan dengan melanggar Pasal 310 dan 311 KUHP, Pasal 156 dan 157 KUHP, Pasal 27, 45, 32, 35, 36, 51 UU ITE atas tindakannya mengunggah gambar hasil suntingan yang menunjukkan Presiden Joko Widodo sedang beradegan seksual dengan mantan presiden Megawati Soekarno Putri di media sosial. Namun Fadli Zon berkoar-koar di media massa bahwa tindakan penahanan pelaku tersebut dinilai dilakukan Presiden secara berlebihan dan tidak perlu dipermasalahkan. NAH LOH ? Ini kasus penyebaran gambar porno antara Presiden Joko Widodo dengan Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri loh, kok dianggap Fadli Zon tidak perlu dipermasalahkan dan terlalu berlebihan jika pelakunya harus ditangkap? Kan Indonesia negara hukum, ada UU ITE yang mengatur secara tegas tindakan yang dilarang untuk dilakukan di dunia maya. Salah satunya larangan penyebaran gambar pornografi. Apalagi tokoh di gambarnya itu 2 orang yang sedang dan pernah jadi orang nomor satu di negeri ini. Jadi yang berlebihan itu siapaa?

  2. Pada bulan November 2014, Pemerintahan Joko Widodo memutuskan untuk menaikkan harga BBM dari Rp.6.500 menjadi Rp.8.500 per liter. Menanggapi hal ini, Fadli menyatakan bahwa argumentasi pemerintah untuk menaikkan harga BBM dangkal. Fadli menganggap kebijakan ini tidak tepat dan pertama kali dalam sejarah harga BBM dinaikan saat harga minyak dunia turun. Fadli menilai masih ada cara lain untuk mensejahterakan rakyat tanpa mengurangi subsidi BBM. Terus, solusi dari seorang wakil rakyat itu apa? Kok koar-koar di media massa doang tanpa beri statement solutif? Wakil rakyat loh, kok kayak mahasiswa yang lagi demo statement-nya.

  3. Pada Oktober 2017, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam tiga tahun ini. Fadli Zon dalam kegiatan di Komplek Parlemen Senayan mengatakan,  kesannya Presiden Jokowi ini 'one man show', kadang sebagai presiden, kadang gubernur, kadang menjadi bupati, sampai kadang-kadang menjadi ketua RT. Menurutnya, bagi-bagi kaos, bagi-bagi sepeda, dan sebagainya, merupakan hal yang tak perlu dilakukan seorang presiden. WHAT ??!! Ya suka-suka Presiden lah, kita bisa anggap itu sebagai bentuk upaya Jokowi biar “akrab” dengan rakyatnya. Terus salahnya itu dimana? Presiden mau akrab dengan rakyatnya kok dikomentari sinis.

  4. Fadli Zon juga sempat di akhir 2017 memposting gambar yang berisi tentang artikel “Jokowinomics Berada di Ambang Kegagalan” yang menyatakan bahwa strategi pemerintah tidak jelas dan Revolusi Mental adalah revolusi yang gagal dengan mengejar pembangunan infrastruktur tanpa memperhatikan ekonomi rakyat. Permasalahannya, jika memang ada yang “salah” dengan strategi pemerintahan saat ini, alangkah lebih bijaksananya dengan membicarakan secara internal antara DPR dengan pemerintah pusat, bukan malah sebaliknya, mengumbar di depan publik tanpa memberikan solusi. Tujuannya apa? Apakah ingin menjatuhkan pemerintah atau mau bikin rakyat tidak percaya dengan kinerja pemerintahan saat ini? Atau malah keduanya? Biarlah Fadli Zon sendiri yang tahu.


Jadi begini, sebagai wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat untuk dijadikan sebagai “saluran aspirasi” rakyat kepada pemerintah pusat, sudah seharusnya wakil rakyat tersebut menjalankan tugasnya sebagai “saluran aspirasi” bagi rakyat yang memilih mereka pada saat Pemilu sebelumnya. Wakil rakyat yang bijaksana adalah wakil rakyat yang mampu mengkomunikasikan segala unek-unek, keluh kesah, saran, masukan dan kritikan dari rakyat kepada pemerintah melalui forum yang kita sebut dengan “rapat”.

Wakil rakyat seharusnya dapat bertindak secara bijaksana di hadapan publik dan media massa, menyampaikan permasalahan dan aspirasi rakyat di forum internal DPR dan pemerintah pusat dan menyampaikan argumen positif di hadapan publik dan media massa sehingga dapat memberikan efek “tenang” bagi rakyatnya.

Tapi Fadli Zon? Bukannya melakukan forum diskusi atau rapat antara DPR dengan pemerintah pusat, tapi justru dia mengumbar-umbar kritikan terhadap pemerintah di depan publik dan di hadapan media massa.

Lalu kritikan pedas untuk pemerintah yang disampaikan beliau di media massa itu mewakili aspirasi siapa? Aspirasi pribadi, sepertinya.

Apakah Fadli Zon mencerminkan sebagai wakil rakyat yang bijaksana? Jawabannya, TIDAK.

Mungkin Fadli Zon lebih cocok menjadi seorang kritikus yang memang tugasnya adalah melempar sebuah isu ke publik atau media massa lalu melempar kritikan-kritikan tajam dan pedas kepada pihak lawan.

Pengamat politik saja lebih baik dalam menyampaikan kritikannya dibanding beliau.

Rakyat Indonesia merindukan sosok wakil rakyat yang bijaksana dalam menyampaikan setiap aspirasi rakyatnya, menyampaikan kritikan dan aspirasi dari rakyat di forum internal DPR dan pemerintah pusat serta memberikan argumen positif di hadapan publik dan media massa sehingga dapat memberikan efek “tenang” bagi rakyat Indonesia demi terciptanya situasi yang kondusif, khususnya menjelang tahun politik 2018 dan 2019.

 

Wednesday, January 17, 2018

Tanpa Kita, Indonesia Hanyalah Nama

Siapa kita? Bangsa Indonesia!

Siapa Kita? Yang Punya Negara Indonesia!

 

Pertanyaan sekaligus jawaban diatas merupakan identitas dari Indonesia. Tanpa Kita, Indonesia hanyalah sebuah nama. Kita adalah semua penduduk Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Perjuangan dalam merebut kekuasaan dari tangan penjajah, telah dilakukan oleh para pendahulu bangsa. Dengan pengorbanan jiwa dan raga, Bangsa Indonesia dapat memerdekakan diri dari penjajahan Negara asing.

Bung Karno bersama seluruh Bangsa Indonesia terdahulu telah meninggalkkan sebuah kemerdekaan untuk bangsa ini. Bangsa yang besar dengan keanekaragaman suku, budaya, agama, bahasa dan adat istiadat, membuat bangsa ini selalu menarik perhatian warga dunia. Ditambah lagi dengan potensi alam yang sangat luar biasa besarnya.

Jadi, bagaimana menjaga Indonesia yang ada saat ini? Apakah Indonesia yang kita cintai ini hanya akan menjadi sebuah nama? Bagaimana rakyat Indonesia menangani setiap permasalahan yang ada?

Banyaknya pertanyaan yang ada membuat rakyat Indonesia harus berkerja keras untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Rangkaian pilkada tahun ini membuat generasi penerus bangsa bersaing dan berkompetisi untuk mencari jabatan tertentu. Tidak sedikit tindakan yang diluar dari nalar, yaitu saling menjatuhkan lawan politik. Apakah ini cerminan Bangsa Indonesia? Dimana letak Bangsa Indonesia yang sopan, santun dan punya etika dalam menjalankan hidup berbangsa dan bernegara.

Persatuan dan kesatuan bangsa yang dulu diidam-idamkan oleh para pendahulu bangsa telah dirusak karena politik. Apabila hubungan antara satu dengan yang lain sudah retak, bagaimana Indonesia bisa maju di dunia internasional. Negara-negara asing justru memperkeruh situasi yang ada di Indonesia. Jika bukan bangsa sendiri yang menjaga Indonesia, lantas siapa lagi?

Pesan

“Kita berada di satu perahu besar bernama NKRI, maka siapapun yang ingin mencoba merusak dan membocorkan perahu besar ini, maka kita semua wajib menjaganya dan mencegahnya, tanpa melihat siapa kita dan agama kita” (KHR Ahmad Azaim Ibrahimy)

“Persatuan dan kesatuan itu memiliki peran sentral dalam mewujudkan Indonesia secara utuh. Oleh karena itu, persatuan dan kesatuan harus mampu menjadi pesan Natal yang dapat direfleksikan dan dilaksanakan oleh kita semua. Dengan demikian, Indonesia akan terhindar dari segala bentuk ancaman perpecahan” (Slamet Junaidi, Anggota DPR RI)

“Kita adalah bangsa yang besar, dan bangsa yang besar harus bersatu, kita tidak akan terpecah belah, ini adalah musuh yang kita hadapi sekarang, saat ini musuh yang kasat mata dan tidak terlihat yaitu upaya bagaimana memecah belah dengan berbagai cara dan alasan” (H. Zumi Zola Zulkifli,S.TP,MA, Gubernur Jambi)

“Saya semakin kagum dengan kekayaan budaya yang kita miliki karena di setiap prosesi bukan hanya memiliki keindahan estetika yang tinggi, tapi terkandung pesan-pesan simbolik, filosofi-filosofi yang sangat bermakna yang bisa menjadi landasan etik dalam kehidupan kita sehari-hari” (Presiden Joko Widodo)

Di Balik Kematian 61 Anak Suku Asmat

Beberapa hari belakangan, dunia maya dihebohkan dengan meninggalnya 61 anak-anak Suku Asmat akibat kekurangan gizi dan terkena campak. Hal ini dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Banyak diantaranya pemberitaan media yang menyalahkan Presiden Joko Widodo atas meninggalnya anak-anak Suku Asmat.

Apakah semua hal yang terjadi di Indonesia adalah salah Presiden?

Presiden Joko Widodo bukanlah seorang malaikat atau dewa yang senantiasa mengetahui semua hal yang terjadi di Indonesia. Beberapa wilayah di Indonesia punya kepala daerah masing-masing, mulai dari Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kepala Desa (Kades), Kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi. Semua daerah punya kepala masing-masing. Sehingga tidak wajar apabila seorang kepala negara (Presiden) dituntut untuk terjun langsung dalam menangani setiap masalah yang terjadi. Masalah di Indonesia meliputi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan, Keamanan (IPolEkSosbudHanKam).

Dimana peran seorang kepala daerah (Gubernur dan Walikota atau Bupati) ?

Kinerja seorang kepala daerah sangat dituntut dalam menangani setiap permasalahan yang terjadi di wilayah. Aspirasi dari seorang warga harus mendapatkan perhatian dari kepala daerah, karena kepala daerah secara langsung bersentuhan dengan masyarakat diwilayahnya. Apabila tidak ada kepedulian dari masing-masing kepala daerah, bukan berarti menyalahkan seorang presiden atas beberapa peristiwa yang terjadi di Indonesia.

Kemana dinas kesehatan?

Hampir disemua pemberitaan di media tidak sama sekali menyinggung masalah dinas kesehatan Kabupaten Asmat. Bukankan masalah kesehatan menjadi salah satu tugas pokok dinas kesehatan untuk mengetahui tingkat kesehatan masyarakat di Kabupaten Asmat? Hal ini juga menjadi peringatan untuk dinas kesehatannya diwilayah manapun, bahwa kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab dinas kesehatan setempat. Ketersediaan obat-obatan di rumah sakit dan puskesmas harus lebih diperhatikan.

Apakah orang-orang yang menyudutkan Presiden bisa menangani semua permasalahan di Papua?

Banyak sekali pihak-pihak yang menyalahkan Presiden Jokowi atas kematian anak-anak di wilayah asmat. Seperti, Muhammad Huda (pengamat politik) mengatakan "Seharusnya pembangunan infrastruktur dibarengi dengan peningkatan layanan kesehatan rakyat". Natalius Pigai (Mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)) mengatakan "Kita selama ini dihipnotis oleh Jokowi yang mengatakan Papua sudah seperti Jakarta baik pendidikan dan kesehatannya. Itu semua palsu. Kematian bayi berantai di Papua tersembunyi di balik pencitraan Jokowi".

Berbagai kritikan pedas yang diberikan kepada  Presiden Jokowi menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengerti tugas dan fungsi dari setiap kementerian, kepala daerah, dan dinas-dinas yang ada. Presiden telah menggerakkan semua sektor yang ada, tinggal bagaimana masing-masing sektor menjalankan tugas dan fungsinya. Apakah harus presiden juga yang menjalankan semua sektor? Coba dipelajari lebih lanjut agar kita tidak salah paham.

Jokowi melakukan pencitraan?

Pencitraan tidak dilakukan oleh Seorang Jokowi. Media yang senantiasa menggambarkan hasil kerja dari seorang Presiden agar diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Melihat banyaknya kunjungan kerja ke berbagai wilayah Indonesia, Jokowi adalah presiden pertama yang paling banyak mengunjungi wilayah-wilayah di Indonesia. Kunjungan kerja yang dilakukan oleh Jokowi bukan sebatas omong kosong belaka, melainkan peninjauan hasil kerja yang dilakukan oleh beberapa kepala daerah sesuai dengan instruksi Jokowi agar seluruh masyarakat mengalami hal yang sama, seperti daerah jawa.

Kesehatan Tidak Terjamin di Papua?

Jokowi telah memberikan jutaan kartu sehat, yang dapat digunakan untuk berobat secara gratis oleh masyarakat yang kurang mampu. Pada tahun 2014 silam, Kartu Papua Sehat telah diberikan kepada 1.200 masyarakat Papua. Hal ini membuktikan bahwa wilayah yang mendapatkan kartu jaminan kesehatan bukan hanya daerah-daerah yang maju, tetapi wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan pun sangat diperhatikan oleh Jokowi.

Jadi, kasus meninggalnya 61 anak-anak Suku Asmat bukan hanya menjadi tanggung jawab Presiden. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, bahwa masih ada saudara-saudara kita di Indonesia yang belum mendapatkan makanan dan gizi yang cukup. Oleh karena itu, marilah kita semua bersatu padu dalam membangun bangsa dan negara ini, agar tidak ada saudara-saudara kita yang merasa terasingkan.

 

 

 

Monday, January 15, 2018

Ulama, Alumni 212 dan Politik

Ulama, Alumni 212 dan Politik
Terbentukny alumni 212 didasari adanya kasus penistaan agama beberapa waktu lalu, dengan tersangka Ahok. Agenda unjuk rasa pun diwarnai oleh berbagai kalangan, khususnya para ulama dan umat Islam.

Ulama atau pemuka agama lain yang selama ini dinobatkan sebagai simbol pemersatu bangsa, ternyata mempunyai keinginan untuk terjun ke ranah politik. Walaupun tidak semua ulama terjun ke politik, tetapi ada pihak-pihak yang menginginkan agar beberapa ulama terjun ke poltik, dengan alih-alih untuk kehidupan rakyat yang lebih baik.

Melihat kondisi yang ramai di media online dan media sosial tentang ulama ke politik, bukankah malah menjerumuskan para ulama. Politik yang penuh dengan aura hitam dan kepentingan belaka, dapat membuat ulama tidak mampu bersikap netral karena adanya kepentingan disana.

Dirilis dari liputan6.com bahwa ada beberapa alumni 212 yang ingin terjun ke politik. Pilkada 2018 seolah menjadi ajang untuk alumni 212 turut berkompetisi. Apakah ini wajar? Padahal pembentukan aksi 212 adalah untuk mengingatkan agar "jangan pernah menistakan agama lain", tapi justru alumni 212 yang ingin turut serta pada pilkada 2018. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa terdapat isu "agama" yang dibawah dalam pilkada 2018.

Berkali-kali Presiden mengingatkan "jangan ada persaingan politik yang membawa isu SARA". Hal ini bertujuan untuk kegiatan pesta demomrasi yang sehat dan tidak ada perpecahan bangsa setelah pilkada. Tetapi demi hawa nafsu belaka, semuanya dihalalkan.

Arrahmahnews.com merilis sebuah berita yang berjudul “Khattath Blak-blakan 212 dan Al-Maidah 51 Hanya Politik Berkedok Agama”. Agama telah menjadi alat untuk membodohi masyarakat dan pemeluk agama yang taat. Mereka yang merasa agamanya dinista lantas berduyun-duyun datang ke Jakarta untuk melakukan aksi bela agama. Padahal mereka telah dibodohi demi syahwat politik dan kekuasaan. Tidak disangka-sangka, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al-Khattath mengakui bahwa dengan aksi 212 dan semangat Al-Maidah 51 adalah gerakan politik untuk memenangkan Anis-Sandi, ketika jumpa pers La Nyalla Mattality di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2017).



Tidak dapat dipungkiri bahwa ada isu agama dalam pilkada DKI beberapa waktu lalu untuk memenangkan Anis-Sandi. Dan disaat pihak alumni 212 merasa dikecewakan oleh sebuah partai politik, dengan mudahnya membeberkan akar masalahnya. Sedikit demi sedikit telah terbongkar bahwa terdapat politisasi agama dalam sebuah pilkada di Indonesia.

Oleh karena itu, untuk membentuk sebuah bangsa dan negara yang kuat, perlu sebuah tindakan positif dari masyarakat Indonesia. Tindakan yang tidak perlu menggunakan isu SARA dalam setiap kepentingan apapun dan gunakan visi misi untuk membangun. Beradu motivasi, gagasan dan upaya membangun bangsa dan negara dari para calon kepala daerah sangat diharapkan oleh masyarakat Indonesia.

Mari, wujudkan PILKADA yang Damai dan Aman!

 

Saturday, January 13, 2018

Ketika “Rezeki” Dimaknai Sebagai Uang dan Hadiah/Pemberian

Jangan khawatirkan rezeki, karena rezeki tidak pernah tertukar dan Allah sudah menjaminnya

Apa yang di maksud dengan ‘Rezeki’? Rezeki merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk setiap orang  dan digunakan sebaik-baik mungkin. Disini saya tidak perlu mengartikan rezeki berdasarkan agama tertentu karena pada dasarnya, setiap agama mempunyai pernafsiran masing-masing tentang rezeki.

Berbicara masalah rezeki, terkadang banyak hal yang tidak saya pahami tentang pendapat orang-orang. Walaupun sebagian besar selalu diucapkan, tetapi pandangan tentang rezeki yang semestinya itu apa? Disaat ada yang ulang tahun, banyak sekali temen-temen yang mengucapkan “semoga makin banyak rezekinya”. Itu adalah salah satu kalimat yang sering diucapkan.

Ketika mendapatkan  hadiah, uang, dan makanan, banyak sekali yang bilang “lumayan, dapat rezeki”. Memang itu adalah rezeki, tapi apakah hanya itu yang merupakan rezeki?

Banyak diantara kita yang lalai dengan rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan kita semua. Beberapa diantaranya adalah :
Kesehatan

Tidakkah kalian ingat bahwa kesehatan merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Ketika kita sehat, sebagian besar dari kita tidak sadar betapa mahalnya harga kesehatan itu. Dan tidak pernah teringat dibenak kita untuk mengucapkan syukur atas kesehatan yang diterima. Bukankah itu Kesehatan Merupakan Rezeki yang diberikan oleh Tuhan?
Tidur

Setelah malam tiba, seluruh orang-orang di muka bumi akan melakukan kegiatan istirahat, yaitu tidur. Supaya kelelahan yang dialami selama mata terbuka, dapat dihilangkan. Tapi, bagaimana jika tidur anda pada hari merupakan tidur yang panjang? Dibangunkan ketika terompet Sang Sakala dibunyikan. Bukankah itu pertanda bahwa anda sudah tidak menikmati kehidupan duniawi lagi? Tapi, hampir tidak ada yang bersyukur atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan.
Teman

Hamper sebagian besar kita hidup bersama-sama dengan teman. Canda tawa, suka duka, bermain bersama, selalu dilewati dengan teman-teman. Walaupun terkadang berselisih paham dengan teman sendiri, tapi mereka adalah teman-teman kita. Punya teman baik, merupakan anugrah yang luar biasa. Tidak semua orang bisa memiliki teman yang baik dan peduli dengan kita. Pernahkah anda berkata “teman, terimakasih telah menjadi teman sekaligus sahabatku"
Pekerjaan

Ketika kita tidak mempunyai pekerjaan atau punya pekerjaan tapi tidak tetap atau punya pekerjaan tapi tidak menyenangkan. Banyak orang diluar sana yang tidak dapat mengerti bagaimana susahnya bekerja. Orang lain hanya melihat tampilan luar dari pekerjaan, serta gaji yang didapat. Tapi tidak tahu apa yang kita kerjakan sehari-hari. Letih, lesu, capek dimarahin, waktu yang tidak sesuai dengan jadwal. Oleh karena itu, syukurilah pekerjaan yang ada. Yang penting halal
Jabatan

Dalam hal jabatan, tidak terlepas dari pekerjaan yang dilakukan. Karena dapat promosi atau tingkat kinerja yang tinggi. Tapi, terkadang masih banyak orang-orang yang ingin mencari jabatan tertinggi pada struktur organisasi. Bukannya bersaing secara sehat, malah banyak yang saling menjatuhkan.

[bs_smart_list_pack_end][/bs_smart_list_pack_end]

Nah, dari beberapa pesan yang saya sampaikan, mohon maaf kiranya ADA yang tidak berkenan di hati para pemirsa. Jika itu bernarnya adanya, mohon menuliskan saran dan komennya. Segala sesuatu yang merupakan suatu REZEKI tidak harus selalu bernilai materi (uang dan hadiah/pemberian).

Friday, January 12, 2018

Wakil Rakyat Kok Begini! Fahri Hamzah Bicara

Mengutip berita yang lansir oleh voa-islam.com, Wakil Ketua DPR-RI Fahri hamzah berbicara tentang kembalinya era otoriter di pemerintahan saat ini. Ada beberapa kalimat penyampaian yang dilontarkan oleh Fahri pada hari Kamis (11/01/2018), yaitu :

“Saya khawatir kalau kita tidak memperingatkan terus menerus ini, apalagi 20 tahun itu selalu ada momen sejarah yang kadang-kadang bergejolak dan tidak terkendali. Bisa-bisa pemerintahannya goyang keras sekali. Kita ingin mengingatkan dan melawan lupa bahwa otoritarianisme itu bisa kembali sebagai sistem”

“Kita ini sudah 20 tahun dan mulai ada introduksi. Pasal-pasal atas nama ketakutan akan kebebasan, kekacauan dan sebagainya lalu meregulasi sesuatu yang memungkinkan negara mengambil keputusan sepihak tanpa proses peradilan yang baik. Ini kita harus lawan”

“Tim-tim yang saya dengar dibentuk itu mau seenaknya menangkap orang. Orang itu belum ada kesalahan tapi ditangkap dulu. Mau disalahkan dulu. Ini mentalitas yang kita runtuhkan. Dan yang kita bangun adalah mentalitas demokratis,”

Apakah pernyataan-pernyataan cocok untuk disampaikan oleh Wakil Rakyat? Pernyataan yang mengundang tanya dari berbagai kalangan masyarakat, sangat tidak tetap untuk disampaikan. Dapat menimbulkan gejolak antara Pemerintah dan Wakil Rakyat yang ada di DPR-RI.

Sebagai Wakil Rakyat, alangkah baiknya menyampaikan langsung kepada presiden melalui Sekretariat Negara (Setneg). Agar dalam penyampaiannya tidak terkesan mengadu domba antara masyarakat dengan pemerintah. Karena selama ini, beberapa kali wakil rakyat tidak memiliki upaya untuk mendiskusikan segala macam persoalan dengan presiden terkait kehidupan bangsa dan negara ini. Hanya menyampaikan melalui media, yang mana penyampaiannya tidak dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Sebagai negara hukum, pemerintah jelas tahu betul bagaimana cara menghukum seseorang dengan peraturan dan Undang-Undang yang berlaku. Hal ini saya tidak sependapat dengan perkataan fahri hamzah bahwa telah dibentuk tim untuk menangkap dan menyalahkan seseorang. Bagaimana bisa seorang wakil rakyat berbicara tanpa dasar dan bukti. Hanya karena “katanya, katanya, katanya”, katanya siapa bung? Coba dipikir secara logika.

Tidak semua lembaga negara berhak untuk melakukan penangkapan, kecuali beberapa lembaga negara seperti Polri dan KPK, karena ada Badan Hukum yang mengatur dan melindunginya. Itupun sesuai dengan tugas yang dijalankan. Penangkapan terhadap seseorang yang melanggar hukum dapat dilakukan dengan bukti-bukti yang ada.

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah tentang penggunaan media dalam menyampaikan berita, aspirasi, maupun pendapatnya. Secara demokrasi, setiap orang berhak untuk memberikan aspirasi atau kritikan terhadap pemerintahan, tapi tidak dengan semena-mena dalam memberikan aspirasi. Ada batasan-batasan dalam mengkritisi, seperti yang dilakukan oleh beberapa negara maju, yaitu Amerika, Inggris, Perancis, Cina, dan Jepang.

Di beberapa maju seperti yang disebutkan, pembatasan pemberitaan di media sangat diperlukan. Mengapa demikian? Walaupun Amerika dan Inggris dikatakan sebagai negara demokratis, bukan berarti pemberitaan di media tidak dibatasi. Justru di negara kita “Indonesia” adalah negara yang paling demokratis. Tapi demokrasi kita sudah kebablasan, seperti banyaknya hoax bermunculan.

Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang buta terhadap setiap perkembangan informasi. Dari pelosok desa hingga kota metropolitan, keterbukaan informasi sangat luas. Jadi, masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang mudah di hasut.

Kembalikan Wakil Rakyat yang CINTA kepada Rakyat!

(Arl)